DIANTARA KITA

Masih rasanya seperti anak belasan tahun begitu waktu yang cukup memberi nafas hingga hari ini, mengingatkan pada waktu puluhan tahun yang lewat mengiang-ngiang tentang sebuah lirik lagu entah telah terlupakan atau memang masih ada di hati siapa..?
Dan hari ini ku coba mendendangkan dengan ala kadarnya memang sebelumnya tak pernah lebih dari itu.

diantara kita, siapakah bernyanyi
aku sendiri..
aku sendiri..
diantara kita, sipakah menangis
aku sendiri..
aku sendiri..

menangis dan bernyanyi
bagai cinta tak pernah habis
aku menangis untukmu
aku bernyanyi untukmu
engkau diam
tenggelam
dalam diriku

diantara kita, siapakah mengaduh
aku sendiri..
aku sendiri..
diantara kita, siapakah berdoa
aku sendiri..
aku sendiri..

Dan diantara kita sebenarnya hanya ada satu cinta, tetapi begitu banyak ketak berdayaan. Begitu luasnya keinginan hingga tak cukup dilalui hanya dengan selangkah. Sungguh, jika saja engkau sempat rindu dalam sekejap saja, tentu aku mampu melipat gandakan sampai batas usia mengijinkannya.

Jika saja engkau tetap membiarkan aku sakit, berdoalah agar tetap sehat agar esok hari dapat melanjutkan hiruk pikuk pesta pora bersama para sahabat dan yang engkau kagumi. Cintailah semuanya, seperti mencintaiku sebelumnya saat engkau sendiri dan kesepian. Disaat tak ada lagi kenyamanan bersama siapapun. Disaat acara Televisi membosankan, disaat libur panjang hanya tidur dan kedapur, disaat di saku hanya tinggal kertas-kertas tagihan, disaat pulsa hanya tinggal satu sms, disaat segalanya menjadi hampa.

Andai akhirnya engkaupun jatuh sakit, teleponlah aku. Ceritakan tentang segala hal buruk engkau hadapi, karena diantara kita sebenarnya tidak terjadi apa-apa, hanya kadang aku ingin selalu mendengarkan kabarmu dari jauh walau itu sepatah kata saja.

Lanjutkan Perjuangan..

kemerdekaan, perjuangan dan cinta

Setelah kemerdekaan itu, aku merindukannya kembali. Setelah berkali-kali para sahabat mendapatkannya dengan sedikit melirikan matanya tanpa mesti mengangkat senjata, tanpa berpeluh dengan kepingan hati yang hampir saja tak mampu dikenali.

Setelah kemerdekaan itu, orang-orang ramai membicarakan tentang masa yang akan datang masa depan dengan riang anak-anak dalam rumah kecil. Sesekali duduk diberanda depan menatap taman halaman dipenuhi warna warni kembang. Segelas kopi dan segelas teh hangat, menghangatkan perjuangan cintanya.

Setelah kemerdekaan itu, perjuanganpun menjadi impian. Menjadi takut lelah saat hidangan dimeja makan tak seperti hari-hari kemarin. Dengan satu atau dua bungkus pengganjal menjelang tidur dini hari.

Kemerdekaan, perjuangan dan cinta itu seperti gemuruh pada senja ditaman halamanku.
Merah putih sudah lama berkibar kawan ?
Kitapun sedang menancapkannya dalam hulu hati yang paling dalam.


Lanjutkan Perjuangan..

Apresiator Setia

arsip