Di Sebuah Halte

Pukul empat sore saya menikmati benar duduk di sebuah halte, beberapa bus berhenti menawarkan untuk mengajak kesebuah kota tujuan. Tetapi saya menggelengkan kepala. Saya tidak bisa mengatakan tidak, karena tentu akan membuat para sopir marah atau ngedumel. Bahkan merasa diremehkan layanannya.
Disebelah duduk seorang sahabat yang rela menjemput dari rumah untuk menghantar saya sampai di sebuah halte. Kami menceritakan tentang sakit, musik, puisi, kenangan-kenangan yang lalu juga membahas sms-sms yang saya terima. Bahwa saya telah membaca semua sms-smnya. Tapi tak satupun ada yang mengatakan "semoga cepat sembuh" yang ada hanya "semoga lebih dewasa" dan sayapun sedang tidak kecewa, karena yakin hatinya lebih awal mengatakannya.

Di sebuah halte tiba-tiba kami terdiam, dan kami saling bertatapan, airmatanya menggenangi pelupuk matanya yang sarat beban. Setelah saya membacakan sebuah sms kemarin siang. "kita akhiri saja semua ini."
"Oh....dalam sakitmupun masih saja ada yang tega menambah kesakitanmu." Begitu kata sahabatku.
Tak satupun orang-orang terkasih mampir sekedar duduk di sini. Sepertinya mereka sangat sibuk dan hanya sekedar menitipkan lambaian tangannya.
"Kau hari ini benar-benar telah ditinggalkan oleh orang-orang yang terkasih." katanya.

Sayapun terdiam, jam tangan telah menunjukan pukul lima sore. Sahabat sayapun tak bisa berlama-lama menamani di halte itu. Karena dia mesti hadir diantara anak dan istrinya.
Air matanya masih berlinang, kamipun berpelukan sambil menepuk-nepuk punggung kita masing-masing. Sambil berkata "inilah orang pertama yang telah menamaniku sejak aku hadir disini." Kata sahabatku.
Tak tahan kamipun saling bertangis-tangisan. Dan kamipun berpisah. Begitu pula saya segera mencegat bus untuk menghantar kesebuah kota tujuan berikutnya.

Benar kata dia, aku telah dibiarkan sekaligus ditinggalkan oleh orang-orang terkasih.

16 komentar:

  1. Setidaknya halte itu beruntung, telah menjadi saksi pertemuan dua sahabat yang telah tenggelam dengan kesibukkan masing-masing. Perjalan ke kota berikutnya telah menanti. Sebagaimana hiduppun memang sebuah perjalanan. Akhirnya update lagi ya mas Boyke. Jadi agak menyayat membaca kisah singkat mmelankolis ini, apalagi dengan lagu Melati Mebunge putih ini. Nice post.

    BalasHapus
  2. malam bro... where are you going?

    BalasHapus
  3. Dan sejatinya, sahabat tidak pernah pergi....tak pernah meninggalkan dan takkan pernah menyakiti....

    BalasHapus
  4. saya ikut dalam lirih tangismu kawan,.... tetapi takkan lagi ada mendung yang selalu menakutimu setelah itu,karena aku yakin semestapun menyaksikan percakapanmu itu.memang beginilah sejatinya hidup kawan,..

    BalasHapus
  5. aku baca tulisan ini sambil menikmati lukisan hujan... dan aku sadari bahwa perjalanan masih panjang... dengan banyak kelokan yang akan memaksa kita memilih dan bersimpang jalan, berpisah dari orang-orang yang pernah bersama kita,begitu seterusnya, hingga ada suatu masa ketika kita harus sendiri melangkah...

    BalasHapus
  6. saya jadi terharu karena ceritamu

    BalasHapus
  7. @.NewSoul,Prof, Ahmad flamboyan, melati, Sewa mobil murah,: Justeru di Tahun yang baru ini, perpisahan semakin menjadi puncak bahkan sayapun tak mampu untuk mengelaknya begitupun yg meninggalkan saya.
    Begitulah, hanya bisa dilakukan dengan menulis dan tentu selalu menulis.

    BalasHapus
  8. @ Sibaho: Terimaksih kedatangannya...

    BalasHapus
  9. maafkan saya lama tidak berkunjung kesini
    tapi bukan berarti membiarkan apalagi meninggalkan.
    Apa khabar Mas Boyke??
    Semoga sehat selalu...

    BalasHapus
  10. Menghampirimu, puitikamu membetahkanku di sini di akhir pekan.

    BalasHapus
  11. wow orang-orang terkasihnya siapa aja tuh.. ?

    BalasHapus
  12. keren banget. sumpah
    mampir ke tempat ku yach

    BalasHapus
  13. di sebuah halte saya menunggumu.. :D

    BalasHapus